Category Archives: Farmasetik

Emulsi, Losio & Emolien

Emulsi adalah sistem dispersi yang mengandung sedikitnya dua fase cairan yang tidak dapat bercampur. Umumnya emulsi secara konvensional dalam bidang farmasi menggunakan partikel dispersi dengan diameter 0,1 sampai 100  μm

Lotio

Lotio

( Gennaro, 1990 ).

Losio adalah sediaan cair berupa suspensi atau dispersi, digunakan sebagai obat luar. Dapat berbentuk suspensi zat padat dalam bentuk partikel halus dengan bahan pensuspensi yang cocok atau emulsi tipe minyak dalam air dengan surfaktan yang cocok. Pada penyimpanan mungkin terjadi pemisahan. Dapat ditambahkan zat pewarna, zat pengawet dan zat pewangi yang cocok ( Ditjen POM, 1979 ). Baca lebih lanjut

7 Komentar

Filed under Farmasetik

Emulgator

Oil Droplets In Water

Emulgator adalah bahan aktif permukaan yang dapat menurunkan tegangan antar muka antara minyak dan air dan membentuk film yang liat mengelilingi tetesan terdispersi sehingga mencegah koalesensi dan terpisahnya fase terdispersi ( Parrot, 1971 ).

Berdasarkan struktur kimianya emulgator diklasifikasikan menjadi :

1.        Emulgator sintetik atau surfaktan yang membentuk film monomolekuler, contohnya adalah :

1)        Golongan anionik misalnya sabun trietanolamin stearat, natrium lauril sulfat.

2)        Golongan kationik misalnya senyawa amonium kwarterner.

3)        Golongan nonionik misalnya ester asam lemak sorbitan, ester asam lemak polioksietilen sorbitan. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Farmasetik

Evaluasi Kestabilan Lotio

Tetes Terdispersi

Tetes Terdispersi

Kestabilan fisika lotio dievaluasi antara lain dilakukan terhadap tiga parameter yaitu ada tidaknya perubahan :

1.        Volume kriming

2.        Kekentalan

3.        Ukuran tetes terdispersi

Bentuk kestabilan emulsi selama penyimpanan ditunjukkan dengan terjadinya kriming, perubahan kekentalan dan ukuran tetes terdispersi ( Lachman 1986 ). Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Farmasetik

Disolusi

Disolusi adalah  proses pelepasan senyawa obat dari sediaan  dan melarut  dalam media pelarut, sedangkan  laju disolusi adalah jumlah zat aktif yang dapat larut dalam waktu tertentu pada kondsisi antar permukaan cair-padat, suhu dan komposisi media yang dibakukan (1). Tetapan laju disolusi merupakan suatu besaran  yang menunjukkan  jumlah bagian senyawa obat yang larut  dalam media  per satuan  waktu. Uji disolusi yang diterapkan pada sediaan obat bertujuan untuk mengukur  serta mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dalam media pelarut yang diketahui volumenya pada waktu dan suhu tertentu, menggunakan alat  tertentu  yang didesain  untuk uji  parameter   disolusi  (1).

Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Farmasetik

Evaluasi Tablet

1. Uji Keseragaman Bobot (1)
Diambil sebanyak 20 tablet kemudian ditimbang dan dihitung bobot rata-ratanya. Selanjutnya tablet tersebut ditimbang satu persatu dan dihitung persentase masing-masing dengan syarat, tidak boleh lebih dari dua tablet yang bobotnya menyimpang lebih dari 5% bobot rata-ratanya dan tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih dari 10% bobot rata-ratanya.

2. Uji Keseragaman Ukuran (1)
Diambil 10 tablet, lalu diukur diameter dan tebalnya satu per satu menggunakan jangka sorong, kemudian dihitung rata-ratanya. Kecuali dinyatakan lain garis tengah tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal tablet.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Farmasetik

Metode Evaluasi Granul

1. Uji Kadar Air
Kadar air ditentukan dengan menimbang granul dalam keadaan basah dan setelah dikeringkan. Kadar air dinyatakan sebagai LOD (Lost On Drying)/ susut pengeringan
2. Uji Kecepatan Alir dan Sudut istirahat
Granul ditimbang sebanyak 100 g, lalu dimasukkan ke dalam corong pisah yang lubang bawahnya ditutup, kemudian diratakan. Pada bagian bawah corong diberi alas. Tutup dibuka hingga granul mulai meluncur. Waktu yang dibutuhkan oleh granul untuk mengalir dicatat. Kecepatan alir dihitung dengan membagi bobot granul dengan waktu yang dibutuhkan untuk mengalir.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Farmasetik

Tablet

Farmakope Indonesia edisi III ( 1 ) mendefinisikan tablet sebagai sediaan kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang dapat digunakan yaitu zat pengisi, zat pelicin, zat pengikat, zat pembasah atau zat lain yang cocok.

Sedangkan definisi menurut USP dan NF (2), tablet adalah bentuk sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan tambahan yang sesuai dan dapat berbeda dalam bentuk, ukuran, bobot dan aspek lainnya tergantung pada jumlah bahan obat dan cara pemakaian tablet.

Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Farmasetik