Category Archives: Perenungan

33 TAHUN “HANYA” DAPAT 8 HAL

⊙Suatu hari, Imam Syaqiq Al Balkhi bertanya kepada muridnya yang bernama

Hatim Al Ashom :

 

■Imam syaqiq : “Sudah berapa lama engkau menuntut ilmu dariku?”.

 

  • “Sudah 33 tahun”, jawab Hatim.

 

■”Apa yang telah kau pelajari, selama 33 th ini?”, tanya Imam Syaqiq.

 

  • “Hanya 8 hal “, jawab Hatim.

 

■” Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun !

Kuhabiskan umurku untuk mendidikmu,

namun kau hanya mempelajari 8 hal dariku?”, Ucap Imam Syaqiq heran.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Perenungan

Ciamis Merubah Segalanya & Sebuah Kesaksian

Sebuah catatan perjalanan karena ‘CINTA PADA ILAHI’ 

Sebuah ungkapan dari lubuk hati terdalam akan ketidakrelaan ketika kalam Ilahi Robbi dinistikan

Ciamis Merubah Segalanya

By : Ahmad M. Saleh

Tadinya saya berpikir 212 akan lebih sedikit dari 411.

Tapi perkiraan saya salah, Ya… 212 kemungkinan akan lebih besar dari 411, kenapa?

Karena ada killer content bernama CIAMIS.

Orang yg paham digital marketing pasti paham apa itu killer content.

Berita Ciamis menasional dan mendunia meski “Media si itu” memberitakan cuma 80 orang saja peserta. Tapi, ini era sosial media dimana kebenaran akan terkonfirmasi dengan cepat sebagaimana hoax juga menyebar dgn cepat.

Dan aksi longmarch ribuan massa dari ciamis menuju jakarta bukanlah hoax. Dia adalah fakta gerakan berbasis ghirah pada agama dan Al-Quran – dari hati yg menyentuh hati setiap orang yg membaca. Kecuali kaum sebelah tentunya.

Killer Content itu valuenya harus dari hati dan jujur baru bisa menggerakan. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Perenungan

Catatan Jelang 40 Tahun

Bila Usia Telah Sampai 40 tahun

Allah Ta’ala berfirman :

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa : “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS. Al-Ahqaf : 15).

Bila usia 40 tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya…

Bila usia telah melebihi 40 tahun, maka manusia hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan, semakin memperbanyak bersyukur…

Bila usia telah melebihi 40 tahun, maka meningkatnya minat seseorang terhadap agama, sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Dimana banyak yang akhirnya menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada minatnya terhadap agama, maka ini pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia… Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Perenungan

Setitik Terang Dibalik Setiap Kesulitan

*) Sebuah kisah yang telah menjadi viral disosial media dan terbaca kembali via WA

Suatu kala, ada seorang yang cukup terkenal akan kepintarannya dalam membantu orang mengatasi masalah. Meskipun usianya sudah cukup tua, namun kebijaksanaannya luar biasa luas. Karena itulah, orang berbondong-bondong ingin bertemu dengannya dengan harapan agar masalah mereka bisa diselesaikan.

Setiap hari, ada saja orang yang datang bertemu dengannya. Mereka sangat mengharapkan jawaban yang kiranya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dan hebatnya, rata-rata dari mereka puas akan jawaban yang diberikan. Tidak heran, kepiawaiannya dalam mengatasi masalah membuat namanya begitu tersohor.

Suatu hari, seorang pemuda mendengar pembicaraan orang-orang di sekitar yang bercerita tentang orang tua tersebut. Ia pun menjadi penasaran dan berusaha mencari tahu keberadaannya. Ia juga ingin bertemu dengannya. Ada sesuatu yang sedang mengganjal di hatinya dan ia masih belum mendapatkan jawaban. Ia berharap mendapatkan jawaban dari orang tua tersebut. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Perenungan

Vitamin A Untuk Anak Kita

Narasumber: Elly Risman, Psi.
(Direktur dan Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati)

Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini membutuhkan Vitamin A (Ayah) yang memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Ayah…
Engkaulah nahkoda, penentu Garis Besar Haluan Keluarga, engkau yang menentukan kemana keluarga kita akan kau bawa.

Engkau bukan hanya pencari rizki yang penuh berkah, yang menyediakan makanan lezat dan pakaian yang hangat, serta rumah dan isinya yang tak mudah berkarat, bagi kami kau adalah pembimbing anak dan istri yang hebat.

Ayah…
Engkau adalah pembuat kebijakan dan peraturan, engkau pula yang menentukan standar keberhasilan.

Ayah..
Engkau senantiasa melakukan pemantauan dan perawatan terhadap kami dan harta benda yang kau titipkan. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Perenungan

Ayah

Sebuah surel di sosisal media yang entah berapa lama beredar dan telah direpost, termasuk pada blog ini

KISAH INSPIRASI. BETAPA BESAR
PENGORBANAN SEORANG AYAH
Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah. “Yah, beras sudah habis loh…” ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, “Ayah…, besok Agus harus bayar uang praktek”. “Iya…” jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.
Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, “besok beliin lengkeng ya” dan saya hanya menjawabnya dengan “Insya Allah” sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu. Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, “jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya”. Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, “ini, anak siapa minta susunya ke siapa”. Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah.
Bagaimana jika sebaliknya? Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Perenungan

Ayah, Anak dan Seekor Burung

Sungguh kasih mereka berdua tiada terbalas. Mereka merawat dengan harapan melihat kita tumbuh dewasa sementata kita merawat mereka dengan kekhawatiran kapan mereka meninggalkan kita.

Tinggalkan komentar

Filed under Perenungan