Tag Archives: Usia

Andaikan Ini Ramadhan Terakhir

Nasehat yang selalu mnjadi pengingat d bulan Ramadhan. Tak pernah bosan dgn nasehat ini

*Mungkin Ramadhan Terakhir*
_Oleh Ust Ihsan Zainuddin,Lc_

Begitulah ia selalu. Bila waktunya tiba, ia akan datang menemui setiap perindunya.

Sudah berabad-abad lamanya. Dan ia masih saja begitu. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia penuh setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga kerinduannya.

Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya. Samudra kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya memantulkan setiap baris Kalamullah, yang setiap jengkal udaranya mengantarkan do’a-do’a para hamba menembus tiap lapis langit.

Sahabatku…

Begitulah ia selalu.

Hari ini, aku tak tahu apakah engkau dan aku termasuk dalam barisan kafilah orang-orang yang merindu padanya. Dulu mungkin iya, tapi entahlah sekarang. Sebab ia hanya menggoreskan makna dalam hati dan jiwa yang merindukannya. Jadi semoga saja, ia menggoreskan arti kerinduan itu dalam hatiku, dan juga hatimu.

Hari ini, entah untuk ke berapa kalinya ia hadir di sini. Dalam kehidupan kita.

Bila hari ini, Allah mengaruniakan 25 tahun padamu, maka berarti setidak-tidaknya ia telah hadir padamu sebanyak 15 kali –sejak usia akil balighmu-. Namun bila karunia Allah padamu hari ini telah sampai pada titik 60 tahun, maka itu artinya ia telah menjumpaimu –setidaknya-tidaknya- sebanyak 45 kali.

Apakah artinya 15 kali perjumpaan itu bagimu? Atau mungkin hingga pertemuan ke 45 dengannya ini engkau masih saja menemukan sebuah arti dari setiap kedatangannya? Entahlah. Hanya Rabb-mu lalu engkau jua yang lebih mengetahuinya.

Namun yang pasti, ia tak pernah jemu menjumpaimu. Selama Rabb-nya menghendaki, ia akan selalu menghampiri hidupmu, tanpa pernah peduli apakah engkau begitu rindu padanya atau justru tak mengharapkan kehadirannya sama sekali. Sungguh, ia akan tetap datang, sahabatku…Sekali lagi, walau engkau bukan perindunya.

Ia selalu saja begitu. Sejak ia hadir dalam kehidupan generasi terbaik ummat ini, kemuliaannya tak pernah berubah. Ia tetap saja agung. Dan tetap saja dimuliakan. Siangnya memancarkan panas yang melelehkan dosa-dosa hamba, sedangkan malam-malam semerbaknya mengangkat mereka begitu dekat pada Sang Rabb.

Sungguh, kebaikannya tak pernah berubah. Sebagaimana ia telah menjadi sebab membubung tingginya derajat generasi shaleh terdahulu, maka seperti itu pula ia hari ini. Yah, Ramadhan selalu saja demikian…

“Hamba yang berpuasa akan dikaruniakan dua kegembiraan,” ujar sang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu ketika. “Kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabb-nya”, lanjut beliau –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Tirmidzy.

Kerinduan pada Ramadhan bermula dari sini. Saat jiwa dan hati kita selalu teringat akan dua kegembiraan ini. Kegembiraan pertama tumpah di dunia ini. Ketika siang yang panas kita lewati dengan berbagai aktifitas. Peluh itu berbulir menetes. Tapi peluh itu menyimpan arti. Kerongkongan kering. Perut berbunyi khas rasa lapar. Hingga akhirnya, matahari berpindah menyinari belahan bumi yang lain.

Di tanah kita, sang mu’adzin mengumandangkan adzan maghrib. Kita, entah di mana, mungkin bersama keluarga tercinta, mungkin pula bersama saudara seiman…Yah, entah di mana, mata kita berbinar gembira. Seteguk air putih atau sebutir kurma cukup sudah mengalahkan segala kekayaan duniawi saat itu. Sejuknya turun menjelajahi kerongkongan, lalu menebarkan kesegaran yang luar biasa ke penjuru tubuh kita.

Sahabatku…

Terbayangkankah rasa itu di benakmu ? Di situlah kegembiraan pertama kita tumpah bersama. Di kala seteguk air putih atau sebutir kurma jauh lebih berharga daripada dunia seisinya. Saat yang menyadarkan kita –sungguh- bahwa dunia memang tidak lebih berharga dari sehelai sayap nyamuk di sisi Penciptanya..

Kegembiraan pertama ini akan terjadi berulang-kali selama kita di dunia.

Namun di atas itu semua, ada kegembiraan lain yang tak pernah dapat terlukiskan oleh kata. Ini adalah kegembiraan puncak. Tapi ia tidak kau peroleh di dunia fana ini. Kelak bila semuanya telah usai, amalmu telah ditimbang dan dihitung, lalu engkau diputuskan memasuki kafilah orang-orang selamat…Maka tunggulah saatnya. Tidak lama lagi. Kala Rabb-mu memanggilmu untuk berjumpa denganNya. Tiada perantara. Yah, engkau sungguh akan melihatNya dengan mata kepalamu sendiri. Begitu jelas. –Sungguh aku tak punya kata-kata lagi untuk ini, sahabat…-, tapi kerinduanmu padaNya akan tumpah di sana.

Di hadapan Rabb yang berpuluh-puluh tahun engkau yakini rububiyah, uluhiyah, asma’ dan shifatNya yang mulia walau engkau tak pernah melihatNya…

Di hadapan Rabb yang berpuluh-puluh tahun lamanya engkau sujud padaNya tanpa pernah menyaksikanNya…

Di hadapan Rabb yang semua rasa cinta,khauf, dan raja’mu, yang semua doa danistighfarmu, yang semua rasa lapar berpuasa, setiap kepingan harta zakatmu, setiap torehan luka dalam medan jihadmu hanya kau tujukan untukNya…

Di hadapanNyalah hari itu engkau benar-benar tegak melihatNya, lalu karena KeMahabesaranNya engkau tak kuasa untuk tidak sujud…langsung di hadapanNya. Di hadapan Sang penguasa jagat semesta. Di hadapan Allah…

Terbayangkankah kegembiraan itu, sahabat?

Dan, Ramadhan selalu saja begitu. Sudah beratus-ratus tahun ia menawarkan janji yang sama. Janji akan dua kegembiraan. Ia tak pernah jemu menawarkannya. Kita sajalah mungkin yang jemu dengan janji itu. Ramadhan tak pernah berubah. Hati kitalah yang terbolak-balik. Dan kita selalu saja lalai meluruskan hati itu.

Sahabatku…

Berilah arti untuk Ramadhan kali ini. Jangan pernah biarkan ia pergi begitu saja, persis seperti yang aku dan engkau lakukan setahun bahkan bertahun-tahun yang silam.

Bukankah dulu ketika ia hadir, kita membiarkannya sepi. Hingga ia beranjak, kita sungguh sepi. Entah ada atau tidak dosa-dosa yang terampuni. Entah rasa lapar dan dahaga itu termaqbulkankah di sisiNya. Entah qiyaam itu adakah nilainya. Entah berhakkah kita melewati pintu Ar Rayyankelak. Entahlah…

Bukankah Allah begitu pemurahnya padaku dan padamu. Hari ini, Ia masih saja memberikan satu kali lagi kesempatan itu. Sementara aku dan kau hampir saja melupakan bahwa di kursi depan meja makan itu, setahun yang lalu masih ada si fulan –yang bisa saja adalah ayah, ibu, saudara, anak dan kerabat kita-, tapi sekarang mereka tidak lagi di kursi itu. Tawanya tiada. Karena ia juga tiada.

Betapa kasihnya Ia pada kita saat Ia masih membiarkan nafas ini berhembus hari ini. Sementara aku dan kau nyaris tidak menyadari bahwa di barisan shaf ini, tepat di sisi kita setahun yang lalu si fulan –entah itu siapa- masih berdiri, bahkan meneteskan air mata di saat-saat qiyaam.

Tapi jawablah, sahabatku, ke mana ia pergi Ramadhan ini? Mungkin ia mendahului kita menjemput balasan mulia Rabbnya. Lalu kita, apa yang akan kita jemput?

Jadi jangan lepaskan Ramadhan ini pergi begitu saja. Jangan ucapkan perpisahan dengannya sebelum ia meninggalkan arti dalam lembaran amalmu. Sahabat, mungkin ini adalah kali terakhir…Untukmu dan untukku.

Setelah itu tiada. Yah, tiada lagi Ramadhan, tiada lagi shiyam, tiada lagi qiyaam, tiada lagi tilawah, tiada lagi shadaqah, tiada lagi istighfar, tiada lagi do’a, tiada lagi I’tikaf, tiada lagi ‘idul fithri. Semuanya tiada. Yang ada hanya hisab.

Dekaplah ia erat selagi engkau diizinkan untuk mendekapnya, sebab mungkin ini adalah kali terakhir bagi kita untuk mendekapnya penuh rindu.

Tinggalkan komentar

Filed under Perenungan

Catatan Jelang 40 Tahun

Bila Usia Telah Sampai 40 tahun

Allah Ta’ala berfirman :

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa : “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS. Al-Ahqaf : 15).

Bila usia 40 tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya…

Bila usia telah melebihi 40 tahun, maka manusia hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan, semakin memperbanyak bersyukur…

Bila usia telah melebihi 40 tahun, maka meningkatnya minat seseorang terhadap agama, sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Dimana banyak yang akhirnya menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada minatnya terhadap agama, maka ini pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia… Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Perenungan